Minggu, 05 Mei 2013

PELAWAK BALI - I KETUT "CEDIL" SUANDA

0 komentar

Sameton Jaruh, berjumpa lagi di artikel tentang bibliografi artis Bali. Berikut kami akan tampilkan sekilas tentang bibliografi I Ketut Suanda alias CEDIL. Yuk kita simak sama-sama. (DJ Jul)

I KETUT “CEDIL” SUANDA

Raut mukanya loyo seperti orang sakit, busana, gerak, dan suaranya, khas. Itulah tokoh Cedil yang kerap mengocok perut penonton lewat banyolan-banyolannya. Dari mana ia terinspirasi sehingga memilih penampilan seperti itu? Dalam perbincangannya dengan wartawati Koran Tokoh, ia banyak bicara tentang dunia lawak, dari materi lawakan porno
sampai masa depan bondres Bali.

Sejak kecil, I Ketut Suanda (54), demikian nama yang tertera dalam KTP-nya, memang sudah lihai menari dan menabuh. Ketut, sapaan suami Ni Nyoman Cipta Wiliawati ini, menuturkan sejak belia dirinya buduh alias usil teramat usil. Ia bisa tiba-tiba datang dengan telanjang dada di gerombolan teman-teman perempuannya sambil menakut-nakuti, tentu saja dengan wajah yang sudah dipermak begitu rupa. Atau, terkadang ia tampil melucu di depan temantemannya. Ia pun kerap mengikuti lomba lawak untuk mengasah bakatnya melawak.


Pria kelahiran Batubulan, Gianyar, dan anak ke-4 pasutri I Made Sura (alm.) dan Ni Wayan Rindi ini, mengaku dirinya tak bisa diam ibarat kutu loncat. Masa-masa SMP dan SMA dilaluinya dengan mengikuti grup-grup temannya ke mana mereka menari dan menabuh. "Yang penting hidup ini harus terus diisi aktivitas . Hidup adalah untuk belajar. Aktivitas ini yang nantinya turut menentukan perjalanan hidup saya," ujarnya.

Setamat SMA tahun 1990, Ketut kuliah di STSI (ISI Denpasar sekarang) jurusan Karawitan. Memang dasarnya ia tak bisa diam dan tidak senang kerutinitasan, baru setahun kuliah, ia berhenti. Ketut mengisi waktunya dengan mengikuti kursus bahasa asing . Ketertarikannya belajar bahasa asing karena mendengar percakapan-percakapan tamu mancanegara yang dulu ramai mengunjungi artshop patung "Sura" milik mendiang ayahnya. Dari rumah, Ketut berencana mengikuti kursus bahasa Inggris di Jalan Teuku Umar Denpasar. Namun, di tengah jalan ia bertemu teman-temannya yang akan mengikuti kursus bahasa Jepang. Ia terpengaruh. "Tiba-tiba saja rencana saya berubah, ikut kursus bahasa Jepang," ungkapnya. Setelah menyelesaikan kursus bahasa Jepang setahun, Ketut berlatih mempraktikkan berbahasa Jepang dengan menjadi guide tamu Jepang. Tahun 1993 ia memutuskan kembali melanjutkan kuliahnya.

CEDIL DAN CEDOL

Sesuai dengan moto hidupnya, hidup adalah untuk belajar, Ketut terbiasa mengisi kegiatan sehari-harinya dengan terus mencoba hal-hal baru yang menarik hatinya. Saat menonton tayangan televisi tentang tokoh-tokoh dunia yang juga pemusik, Pesiden AS Bill Clinton menarik perhatiannya. Ia kagum terhadap kehebatan seorang presiden bermain saxophone. Seketika itu pula Ketut termotivasi untuk belajar memainkan saxophone, dengan belajar secara mandiri. Tak mengherankan jika dalam pementasannya, tokoh Cedil kerap juga memainkan alat musik ini.

Ketut yang sudah melewati masa-masa penuh kegiatan menari baris, jauk , dan topeng, sejak tahun 1987 mulai masuk ke prembon sebagai pelawak dengan bermacam-macam peran. Sebelas tahun lamanya, Ketut menghibur masyarakat dengan banyolan-banyolannya. Selama itu pula ia mengamati tata rias muka teman-temannya. Hingga akhirnya ia menemukan tata rias muka seperti tokoh Cedil yang kita lihat sekarang, yang kata orang karakter mukanya seperti orang loyo, dan sakit. Tahun 1998, Ketut mencoba kembali tampil dengan rias muka seperti itu dan dipadukannya dengan suara dan kostum yang khas. Ternyata karakter tokoh Cedil cukup diterima masyarakat dan mendapat respons cukup antusias.

Tentang sebutan "Cedil" ia menuturkan, nama itu muncul secara tiba-tiba. Pada suatu hari, saat pentas, teman mainnya menanyakan siapa nama Ketut nanti di panggung. Ketut sempat bingung. Namun, karena pasangan bondresnya bernama Cedol, ia asal menyebut saja nama Cedil. Sampai saat ini nama Cedil terus melekat pada karakter tokoh yang ia perankan. Tahun 1998-2000, penampilan Cedil hanya sebatas ekspresi, belum banyak kata-kata yang terucapkan. "Melihat muka saya saja penonton sudah tertawa," ujar bapak dua anak, I Wayan Gede Maystana Setianda dan Ni Made Oktavia Andani, ini.

Tahun 2001 Cedil mulai tampil dalam peguyuban lawak Bali dan tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB). Nama Cedil makin dikenal dengan tampilannya yang khas. Beberapa masukan dari penikmat dan pengamat seni menggambarkan karakter wajah yang ia tampilkan itu cocok diimbangi karakter banyak akal, licik, cerdas, dan tak bisa terkalahkan. Ketut memakai empat patokan ini untuk tetap mempertahankan karaternya sebagai seorang Cedil. Ia memanfaatkan buku-buku sebagai referensi dan mengamati di masyarakat yang memang ada orang yang berkarakter seperti itu.

Karakter tokoh Cedil dengan mimik, suara dan tingkah lakunya yang khas itu dikatakannya banyak terispirasi dari film kartun Tom & Jerry dan film Shaun the Sheep. "Makanya, kalau ada film itu di televisi, anak-anak saya pasti memanggil saya. Kami pun lalu nonton bersama," tuturnya.

Ia mengungkapkan, istri dan kedua anaknya mendukung profesinya ini. Istrinya yang juga seorang penari dan memberikan les privat kepada beberapa tamu Jepang yang kerap menginap di rumah mereka, sangat memahami profesi kesenimanan Ketut Suanda. "Yang penting positif," ujar penyuka warna krem ini.

Ketut mengelola Grup Gamelan Cendana yang mengoleksi banyak jenis gamelan. Di antaranya, gamelan gong kebyar, semara pegulingan, gamelan slonding, gamelan gong gede lengkap, gender wayang. "Jika kebetulan ada rezeki saya pasti terdorong ingin membeli gamelan," akunya.

Ia tak memungkiri sekarang ini banyak pelawak yang mewarnai lewakannya dengan hal-hal porno. Menurutnya, hal itu boleh-boleh saja, namun porsinya harus diperkecil dan diungkapkan dengan terselubung, dengan mekulit. Masih banyak bahan lain yang bisa dipakai untuk melucu.

Ke depan, Ketut berkeinginan membuat bondres di Bali yang mulitiguna dan multifungsi. Maksudnya, tak hanya dipakai dalam pertunjukan seni tradisional Bali, namun tampil sampai ke luar seni tradisional Bali, bisa masuk ke acara apa saja.  

Posting Komentar