Rabu, 30 Januari 2013

Perjalanan Karier I Gusti Sudarsana

0 komentar
Nama I Gusti Sudarsana bagi penikmat musik Bali pasti sudah tidak asing lagi, karena I Gusti Sudarsana adalah pemain lama dalam Industri musik di Bali. Lagu "Raja Pala", "Sampik Ingtai", "Galang Kangin", "Suba Kadung" dan masih banyak lagi yang lainnya adalah buah karya beliau. Artis 80-an ini sangat piawai dalam memainkan alat-alat musik, baik tradisional maupun modern. Selain itu, segudang prestasi telah beliau peroleh. 

I Gusti Sudarsana tidak hanya di kenal sebagai penyanyi Bali, beliau juga sebagai arangger musik dan pencipta lagu. Walau di balik kekurangannya yang sejak dari kecil beliau tuna netra, namun semangatnya dalam belajar dan berkarya untuk mengajegkan seni kebudayaan Bali sangat tinggi. 

Pada Kesempatan ini, saya akan mengajak Sameton Jaruh untuk menyimak Biografi I Gusti Sudarsana seperti yang saya kutip dari "Jumah Record". 

I Gusti Sudarsana lahir di Sedang pada tangagl 8 Januari 1969. Dia merupakan anak dari pasangan Gusti Ngurah Meriam dan Ni Gusti Ayu Rai Leked. Pada umur 5 tahun, dia sudah mulai belajar bermain musik seperti tingklik, suling yang diajarkan oleh paman saya sendiri yaitu I Gusti Ketut Tantra dan dengan cara mendengarkan sendiri. 

Sesekali, pada usia 8 tahun, saya diberi kesempatan memainkan gamelan (alat musik) ketika ada upacara adat. Ketika berumur 8 tahun, saya bersekolah di sekolah luar biasaa (SLB) negeri Driaraba di Jalan Serma Gede nomor 11, di daerah Sanglah Denpasar. Pada saat itulah saya tahu tentang musik dan belajar teorinya di sekolah tetapi prakteknya lebih banyak belajar sendiri di asrama dengan peralatan yang tersedia seperti gamelan, kulintang, angklung bambu serta akustik gitar yang ada di asrama putra. 

Nah, karena saya hanya tahu suara, maka saya memegang stang gitar dari atas, hal ini terjadi tahun 1979 ketika saya masih kelas 1. 3 bulan kemudian, saya bisa 5 kunci yang diajarkan oleh salah satu teman yang memiliki penglihatan lebih baik daripada saya, namanya adalah Merta. Sejak saat itulah saya mulai belajr memegang gitar dari bawah. Sedangkan untuk gamelan dan gangsa saya juga salah di mana seharusnya menutup dari bawah tetapi saya mentup dari atas. Setelah kelas 3, saya akhirnya lebih paham berkat bantuan dari Bapak Pande Trika. Untuk kesenian gamelan, saya sudah ikut belajar dari TK dan mulai punya group ketika kelas 3 SD sampai kelas 8 dengan memainkan melodi dan ketika kelas 9 saya main organ karena pemainnya tamat. 

Saat duduk di kelas 6 sampai 8, saya ikut bermain kulintang mengisi acara di hotel Filid Sanur. Pada tanggal 11 / 6 / 1988, saya tamat SMP yang selanjutnya pada tanggal 16/6 1988, saya mulai bekerja di Legian Beach Hotel bersama I Made Kandra sebagai penabuh rindik dan pertuni sampai thaun 1992. Sedangkan untuk menciptakan lagu, saya sudah mulai dari kelas 7. 

Ketika saya bekerja di Legian Beach Hotel, saya tinggal bersama Made Kandra dan keluarga di Banjar Tenten. Di sela-sela pekerjaan sebagai penabuh, saya mulai kos bersama adik saya I Gusti Lanang Sujana di jalan Imam Bonjol 26 A Denpasar sampai tanggal 1 /11/ 1992. Pada bulan Mei 1989, saya dan Pak Kandra mendapat pekerjaan tambahan untuk memainkan rindik di Bali Mandira Hotel dan juga sebagai tukang pijat sejak 20/12/1989 sampai 1/8/2001 karena ada Spa. Tetapi pada bulan April 1990, kami diberhentikan main di Legian Beach karena pihak hotel tidak memerlukan lagi. 

Dari tahun 1988 sampai 1991, saya hanya mengandalkan gitar pinjaman karena tidak mampu membeli, uang hanya cukup untuk makan. Gitar itu milik A.A. Karmawan dan Made Kandra. Tahun 1991, saya punya gitar pemberian seorang turis Australia, Paul Balsarini salah satu pelanggan yang pernah saya pijat. Sejak tahun itulah ekonomi kami dibantu bahkan pada tahun 1995 saya dan Made Kandra diberikan sebuah Keybord. Itulah awal saya punya keybord sendiri. Pada awalnya, saya hanya meminjam kepada Pak Petrus, Dewa Sujana, dan Made Kandra. 

Saya Menikah pada 4/11/1992 dengan teman senasib (tuna netra.red) yang bernama Ketut Rai Sakuntari yang saya pacari ketika di sekolah tahun 1988. Dan pada tanggal 26 Juni 1993, kami dikaruniai seorang anak laki-laki yang dinamakan I Gusti Ngurah Budi Kurniawan. Pada 1/11/1992, saya pindah kos ke Kuta sampai bulan Agustus 1993 kemudian pindah kos ke Banjar Tenten sampai 1/11/2000. 

Setelah lahir, Ngurah dan Ibunya tinggal di kampung kurang lebih 7 bulan karena keluarga mengkhawatirkan keadaan kami. Setelah umur 7 bulan, barulah Ngurah tinggal bersama dan kami mengurusnya dengan keterbatasan kami. Hal ini dilakukan agar kelak dia biasa mengerti keadaaan orang tuanya. Kebetulan waktu itu ada 4 pasang keluarga yang memiliki nasib serupa dengan kami. Meskipun pada awalnya keluarga tidak mengijinkam kami untuk mengasuh Ngurah tetapi kami membuktikan bahwa kami juga bisa, hingga kini. Akhirnya sekarang Ngurah sudah kelas 3 SMK. 

Kita tinggalkan sejenak mengenai kisah keluarga kami dan melihat kembali perkembangan musik saya. Ketika kelas 2 SMP, saya sudah menciptakan lagu dan di tahun 1988, dua buah lagu saya dinyanyikan di Bali record oleh Made Kandra yang berjudul edan dan nasib. Setelah lulus SMP, saya beberapa kali membawa contoh lagu ke studio tetapi selalu ditolak dengan berbagai alasan. Tetapi saya dapat hikmahnya, dari mendengarkan tehnik orang merekam, saya jadi tahu cara bermusik sendiri bahkan ingin punya alat-alatnya. Sampai Desember 1992, saya memilki uang untuk membeli tape yang double kaset karena gitar pemberian tamu itu agak kurang mendukung. 

Pada tahun 1993, saya membuat dabing dengan gitar pinjaman dari Made Kandra. Lagu itu pun beredar serta dinyanyikan oleh Krisna Semara, Widi Widiana, Luh Sulasmi di mana musiknya diaranjer oleh Jimmy Sila'a. Di situlah sang aranjer tertarik dengan dabing gitarnya dan dipertemukan dengan A.A. Karmawan. Singkat cerita, sejak tahun 1995, saya dilibatkan dalam menggarap beberapa lagu terutama misik etnik sebab saya bisa mendabing gamelan dengan keybord. Sejak saat itulah saya mulai dikenal oleh produser dan penyanyi. Suatu ketika ada lagu hits "Sampik Intai" dan "Olasin Beli" yang saya aranjer tetapi dari pihak penerbit katanya lupa mencantumkan nama saya sehingga saya pergi ke Bali Record untuk melakukan aranjer ulang dan menyannyi di sana. Disini juga saya mendapat ide untuk menggunakan degung Bali. Sebelum ke Bali Record, saya juga sempat ke Aneka Studio, di Bali Record saya bekerja sama dengan Martinus karena saya tidak punya keybord sendiri. 

Di Aneka record, saya juga bersama Jimmy Sila'a mensebling gamelan sehingga bisa dimainkan oleh Tut keybord. Sedangkan di Bali record, selain nyempling bersama Martinus dengan menggunakan keyboard Xp 50/80, saya juga mengedit sound, mengatur equalizer, corus, oktaf dan alat yang lain sehingga seolah olah yang bermain musik dengan banyak orang. Disamping itu saya juga bermain di Kaplug Dadi record dan di Arjuna record. Di arjuna record, saya pernah punya lagu tetapi syairnya diganti oleh bos Arjuna Record. Tetapi saya jual lagi syair lagu itu kepada Bali record dan pihak Arjuna record menanyakan kenapa saya menjual lagunya, saya pun menjawab bahwa anda membeli lagu dan saya menjual syairnya. Pernah saya juga dapat proyek di arjuna record tetapi dia kerjakan sendiri. 

Pada tanggal 9 maret 1998, saya dikaruniai seorang putri dan kami asuh bersama neneknya, kami ajak dia di kos, sesudah dia berumur 7 bulan, dia kami asuh berdua, jadi kami tinggal berempat yaitu saya sendiri, istri, anak laki-laki saya dan adiknya Gusti Ayu Ari Suastini. 

Bulan Agustus 1998, album pertama saya beredar, judulnya "Suba Kadung". Menurut kabar dari studio, penjualannya cukup bagus karena sering terdengar di radio dan mungkin karena untuk pertama kalinya lagu Bali dengan musik Banyuwangi yang berjudul "Beli teka". Dalam album ini, saya juga mengajak Ayu Damayanti dan Martinus. Lagu-lagu saya banyak dinyanyikan oleh Widi Widiana, De Alot/Made Kandra, Alit Widiari dan Ayu Damayanti. Bahkan lagu "liang" yang saya dendangkan dengan Ayu Damayanti menjadi musik Pesona Bali. Pada bulan September 1999, saya punya keybord yang bisa memprogram sendiri, meskipun diberi nyicil sendiri oleh bos Bali record. 

Kita beralih sebentar ke kisah yang lainnya, pada tahun 1996, mertua saya mendanai untuk membeli tanah seluas 1 are di daerah buana kubu, bersebelahan kakak ipar Ibu wayan Sumiarsih yang juga membeli 1 are. Pada tanggal 1 Nopember 2000, kami tinggal di Buanakubu, tepatnya di rumah iparku sebab saya belum mampu membangun rumah. Waktu itupun anak saya tidak masuk selama 2 minggu karena masih beradaptasi dengan lingkungan baru. Kami harus biasa beradaptasi dengan segala keterbatasan kami sehingga akhirnya kami pun bisa melewati semuanya berkat dukungan semua keluarga. Anak saya, Ngurah akhirnya bersekolah di SD 28 sampai tahun ajaran baru lalu akhirnya pindah ke SD 19 Pemecutan. 

Sekedar informasi, saya diberi sebuah elektrik gitar dari Poul Balsarani. Dengan alat ini, saya juga dapat tambahan penghasilan dengan mengisi gitar di beberapa lagu di studio. Pada tahun 2000, saya sudah bisa memprogram yang hasilnya saya tabung sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi dari hasil mijat dan nabuh di hotel. Pada masa itu juga, saya punya group band yang bernama "Happy Band" yang bermain 2 kali seminggu di Angsa Putih. Dri semua itulah, akhirnya cicilan keyboard bisa terbayarkan sehingga pelan pelan kami pun bisa membangun rumah. Untuk pemasangan listrik, air dan PDAM kami dibantu oleh Mr. Paul. Setelah selesai pengerjaannya, kami pun menempati rumah itu sampai sekarang. 

Dari tahun 2000 ampai tahun 2004, order musik trus bertambah, bahkan tahun 2003, saya mendapat penghargaan khusus dari Denpost (Gita Denpost Award.red). Dari hasil bermusik itulah, saya bisa membeli alat rekaman sendiri tetapi mejelang tahun 2005, hasil musik mulai menurun. 

Dengan menurunya pendapatan pada akhir tahun2005, maka muncullah ide untuk membuat pupuh biola, pupuh adalah lagu yang biasaanya diiringi dengan pupuh gegontangan dan suling sebagai pengiring lagunya. Seperti string di band/musik. Waktu itu, saya melibatkan Made Suyatra, seorang pemain biola kuartet di Bali Mandira. Penggarapannya menghabiskan waktu kurang lebih 1 bulan, karena dari tahun 2001 kerja di hotel hanya 180 menit/3 jam setiap harinya. Dari usaha tersebut ternyata kurang berhasil sehingga pada bulan Juli, saya ada ide untuk melibatkan diri di wayang kulit. Dengan dibantu oleh I wayan Suyatra, tanggal 25 Juli 2006, saya mulai main keyboard di group Wayang Joblar. Dari situ penghasilan mulai meningkat dan sambil jalan saya dapat promosi studio. 

Di awal tahun 2007, saya dapat album anak-anak dan saat itu juga terselesaikan beberapa album: seperti Grejag, dokter A.A. Anantasika dan beberapa degung Bali hingga bisa membeli seperangkat computer dan 1 unit sepeda motor supra 125 cc. saya ingin kembali mengingatkan bahwa degung Bali muncul antara tahun 2006 sampai 2007. 

Seiring dengan perjalanan waktu, pada tanggal 4/9/2009, saya memutuskan mengundurkan diri dari group wayang kulit karena saya sakit. Dalam keadaan terpuruk, sahabat yang saya kenal di tahun 2002 ketika menggarap lagunya Nusa Penida, Wayan Sukadana muncul dan menawarkan alternative untuk mencoba peluang usaha baru. Dengan segala keterbatasan yang saya miliki, setiap mempunyai alat baru,untuk pengoperasiannya selalu dibantu oleh Dex Wik. Saat ini ada ide untuk menjual lagu di internet yang digagas oleh Wayan Sukadana. Saya sangat berharap ini bisa berhasil ditengah kerasnya hidup dan persaingan yang semakin ketat. Terima kasih banyak kepada Wayan Sukadana, Tut Oka, Gede Sumadi, Yuda, Suria, dan semua yang telah membantu saya untuk bangkit dari keterpurukan. Terima kasih juga kepada Ketut Artana dan Dewa Sujana. (editor : DJ Jul)

Contact artis : Gusti Sudarsana
Jl. Buana Kubu XII No.20, Monang Maning Denpasar
Hp : +6281916248020

Posting Komentar